Ilmu dan Keutamaannya Menurut Para Ulama Terdahulu

Berikut Keutamaan Ilmu Menurut Para Ulama Terdahulu

Congkop.com – Ali bin abi thalib ra berkata kepada kumail: “hai kumail! llmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta itu terhu-kum. Harta itu berkurang apabila dibelanjakan dan ilmu itu bertambah dengan dibelanjakan”.

Berkata pula Ali ra. : “Orang berilmu lebih utama daripada orang yang selalu berpuasa, bershalat dan berjihad. Apabila mati orang yang berilmu, maka terdapatlah suatu kekosongan dalam Islam yang tidak dapat ditutup selain orang penggantinya”.

Berkata pula Ali ra. dengan sajak :

* .Tidaklah kebanggaan selain bagi ahli ilmu, Mereka memberi petunjuk kepada orang yang meminta di tunjukkan.

* Nilai manusia adalah dengan kebaikan yang dikerjakannya, Dan orang-orang bodoh itu adalah musuh ahli ilmu.

* Menanglah engkau dengan ilmu, hiduplah lamal. Orang lain mati, ahli ilmu itu terus hidup.

Berkata Abul-Aswad : “Tidak adalah yang lebih mulia dari ilmu. Raja-raja itu menghukurn manusia dan ‘alim ulama itu menghukum raja-raja”. Berkata Ibnu Abbas ra. : “Disuruh pilih pada Sulaiman bin Daud as. antara ilmu, harta dan kerajaan. Maka dipilihnya ilmu, lalu dianugerahkanlah kepadanya harta dan kerajaan bersama ilmu itu”. “Ditanyalcan kepada Ibnul Mubarak : “Siapakah manusia itu?”. Maka ia menjawab : “Orang-orang yang berilmu”. Lalu ditanyakan pula : “Siapakah raja itu?”. Maka ia menjawab: “Orang yang zuhud (tidak terpengaruh dengan kemewahan dunia. Ditanyakan pula : “Siapakah orang hina itu?”. Maka ia menjasvab : “Mereka yang memakan (memperoleh) dunia dengan agama.

Ibnul Mubarak tidak memasukkan orang tak berilmu dalam golongan manusia. Karena ciri yang membedakan antara manusia dan hewan, ialah ilmu. Maka manusia itu adalah manusia, di mana ia menjadi mulia karena ilmu. Dan tidaklah yang demikian itu disebabkan kekuatan dirinya. Unta adalah lebih kuat daripada manusia. Bukanlah karena besarnya. Gajah lebih besar daripada manusia.

Bukanlah karena beraninya. Binatang buas lebih berani daripada manusia. Bukanlah karena banyak makannya. Perut lembu lebih besar daripada perut manusia. Bukanlah karena kesetubuhannya dengan wanita. Burung pipit yang paling rendah lebih kuat bersetubuh, dibandingkan dengan manusia. Bahkan, manusia itu tidak dijadikan, selain karena ilmu. Berkata sebagian ulama “Wahai kiranya, barang apakah yang dapat diperoleh oleh orang yang ketiadaan ilmu dan barang apakah yang hilang dari orang yang memperoleh ilmu”.

Bersabda Nab) saw. :

(Man uutiyal Qur-aana fara-aa anna ahadan uutiya khairan minhu faqad haqqara maa ‘adhdhamallaaht ta’aalaa).

Artinya : “Barangsiapa dihadiahkan kepadanya Al•Qur-an falu ia memandang ada lain yang lebih baik daripadanya, maka orang itu telah ment hinakan apa yang dibesarkan oleh Allah Ta’ala”.

Bertanya Fathul-Mausuli ra. : “Bukankah orang sakit itu apabila tak mau makan dan minun, lalu mati?”. Menjawab orang dikelilingnya : “Benar!”. Lalu menyambung Fathul-Mausuli : “Begitu pula hati, apabila tak mau kepada hikmah dan ilmu dalam tiga hari, maka matilah hati itu’: Benarlah perkataan itu, karena sesungguhnya makanan hati itu ialah ilmu dan hikmah. Dengan dua itulah, hidup hati, sebagaimana tubuh itu hidup dengan makanan. Orang yang tak berilmu, hatinya menjadi sakit dan kematian hatinya itu suatu keharusan. Tetapi, dia tidak menyadari karena kecintaan dan kesibukannya dengan dunia, menghilangkan perasaan itu, sebagaimana kesangatan takut, kadang-kadang menghilangkan kepedihan luka seketika, meskipun luka itu masih ada. Apabila mati itu telah menghilangkan kesibukan duniawi, talu ia merasa dengan kebinasaan dan merugi besar. Kemudian, itu tidak bermanfa’at baginya.

Yang demikian itu, seperti : dirasakan oleh orang yang telah aznan dari ketakutan dan telah sembuh mabuk, dengan luka-luka yang diperolehnya dahulu sewaktu sedang mabuk dan takut. Kita berlindung dengan Allah dari hari pembukaan apa yang tertutup. Sesungguhnya manusia itu tertidur. Apabila mati, maka dia terbangun. Berkata Al-Hassan ra. : “Ditimbang tinta para ulama dengan darah para syuhada’. Maka beratlah timbangan tinta para ulama itu, dari darah para syuhada’ “. Berkata. Ibnu Mas’ud ra. : “Haruslah engkau berilmu sebelum ilmu itu diangkat. Diangkat ilmu adalah dengan kematian perawi-perawinya. Demi Tuhan yang jiwaku di dalam kekuasaan-Nya. Sesungguhnya orang-orang yang syahid dalam perang sabil, lebih suka dibangkitkan oleh Allah nanti sebagai ulama. Karena melihat kemuliaan ulama itu. Sesungguhnya tak ada seorangpun yang dilahirkan berilmu. Karena ilmu itu adalah dengan belajar”. Berkata lbnu Abbas ra. : “Bertukar-pikiran tentang ilmu sebahagian dari malam, lebih aku sukai daripada berbuat ibadah di malam itu”. bahwa kebaikan di dunia itu ialah ilmu dan ibadah, sedang kebaikan di akhirat itu, ialah sorga. Ditanyakan kepada sebagian hukamat (para ahli hikmah) : “Barang apakah yang dapat disimpan lama?”.

Lalu ia menjawab : “Yaitu barang-barang, apabila kapalmu karam, maka dia berenang bersama kamu, yakni : ilmu! Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan karam kapal ialah binasa badan, dengan mati. Berkata setengah hukamat : “Barangsiapa membuat ilmu sebagai kekang di mulut kuda, niscaya dia diambil manusia menjadi imam. Dan barangsiapa dikenal dengan hikmahnya, niscaya dia diperhatikan oleh semua mata dengan mulia”.

Berkata Imam Asy-Syafii ra. : “Diantara kemuliaan ilmu, ialah, bahwa tiap-tiap orang dikatakan berilmu, meskipun dalam soal yang remeh, maka ia gembira. Sebaliknya, apabila dikatakan tidak, maka ia merasa sedih”.

Berkata Umar ra. : “Hai manusia! Haruslah engkau berilmu! Bahwasanya Allah swt. mempunyai selendang yang dikasihiNya. Barangsiapa mencari sebuah pintu dari ilmu, maka ia diselendangi Allah dengan selendangNya. Jika ia berbuat dosa, maka dimintanya kerelaan Allah tiga kali, supaya selendang itu tidak di buka daripadanya dan jika pun berkepanjangan dosanya sampai ia mati”.

Berkata Al-Ahnat ra. : “Hampirlah orang berilmu itu dianggap sebagai Tuhan. Dan tiap-tiap kemuliaan yang tidak dikuatkan dengan ilmu, maka kehinaanlah kesudahannya”.

Berkata Salim bin Abil-Ja’ad : “Aku dibeli oleh tuanku dengan harga 300 dirham lalu dimerdekakannya aku. Lalu aku bertanya : “Pekerjaan apakah yang akan aku kerjakan?”. Maka bekerjalah aku datam lapangan ilmu. Tak sampai setahun kemudian, datanglah berkunjung kepadaku amir kota Madinah. Maka tidak aku izinkan, ia masuk”.

Berkata Zubair bin Abi Bakar : “Ayahku di Irak menulis surat kepadaku. Isinya diantara Iain, yaitu : “Haruslah engkau berilmu! Karena jika engkau memerlukan kepadanya, maka ia menjadi harta bagimu. Dan jika engkau tidak memerlukan kepadanya, maka ilmu itu menambahkan keelokanrnu”.

Diceritakan juga yang demikian dalam nasehat Luqman kepada anaknya. Berkata Luqman : “Hai anakku! Duduklah bersama ulama! rapatlah mereka dengan kedua lututmu! Sesungguhnya Allah swt. menghidupkan hati dengan nur hikmah (sinar ilmu) seperti menghidupkan bumi dengan hujan dari langit”.

“Berkata setengah hukama’ : “Apabila meninggal seorang ahli ilmu, maka ia ditangisi oleh ikan di dalam air dan burung di udara. Wajahnya hilang tetapi sebutannya tidak dilupakan”.

Berkata Az-Zuhri : “Ilmu itu jantan dan tidak mencintainya selain oleh laki-laki yang jantan”.

Oleh Congkop.com Berdasarkan Sumber kitab Ihya’Ulumuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sinema izle