Kisah Wafatnya Seseorang  Yang  Jasadnya Di Bawa Mengelilingi Ka’bah

 

Seseorang yang istimewa, Namanya Muhammad bin Ali bin Abi Manshur Abu Ja’far Al-Ashbahani. Ia bergelar Jamaluddin, wakil gubernur kota Mosul. Ia senang bersedekah dan berbuat baik. Sungguh besar jasanya yang ia tinggalkan bagi kota Mekah dan Madinah.

Ia mengalirkan mata air ke padang Arafah, membangun pabrik-pabrik, membangun masjid Khaif, membangun pagar kota Madinah, membangun jembatan di atas sungai Dajlah di pulau Ibnu Umar dari batu pahatan, besi dan timah, serta membangun banyak lahan ternak.

Setiap hari ia selalu bersedekah di depan pintu rumahnya sebanyak 100 dinar. Ia tebus para tawanan dalam setiap tahunnya dengan harta 10.000 dinar. Ia santuni para ahli fikih dan fakir miskin yang ada di Baghdad dan kotakota lainnya.

Pada tahun 585 H, ia dipenjara. “Seekor burung putih pernah hinggap sebelum kematian Jamaluddin. Burung itu senantiasa menemaninya dan ia senantiasa berzikir kepada Allah sampai meninggal pada bulan Sya’ban tahun 585 H. Setelah itu burung itu pun terbang. Jamaluddin dikuburkan di sebuah tempat yang ia bangun untuk dirinya sendiri di kota Mosul,” tulis ….dalam kitab …. berdasarkan cerita orang yang pernah tinggal bersama Jamaluddin.

Antara ia dan Asaduddin Syirakuh bin Syadzi pernah terjadi persaudaraan. Masing-masing berjanji bahwa siapa di antara keduanya yang meninggal terlebih dahulu, hendaklah yang lain membawa jasadnya ke kota Madinah Al-Munawwarah. Asaduddin pun membawa jasad Jamaluddin dari kota Mosul ke kota Madinah dengan diangkat di atas pundak beberapa orang laki-laki.

Setiap kali melewati suatu daerah, para penduduk daerah tersebut mendoakannya dan memohonkan rahmat untuknya serta memuji kebaikannya. Kemudian ia pun dishalatkan oleh penduduk Mosul, Tikrit, Baghdad, Hillah, Kufah, Fiyad, dan Mekah. Lalu jasadnya dibawa berkeliling di sekitar Ka’bah. Setelah di shalatkan, jasadnya dibawa ke kota Madinah untuk dimakamkan. Yaitu di sebelah timur masjid Nabawi.

“Jarak antara kuburannya dan kuburan Nabi hanya lima belas hasta,” ujar Ibnul Jauzi dan Ibnu Sa’i.

Sumber:kiblat.net

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *