Bisakah Memisahkan Agama dari Panggung Politik?

r

Congkop.com. Sekitar 14 abad yang lalu, telah berdiri sebuah negara yang menjadikan Al-Quran sebagai landasan undang-undangnya. Sebuah negara yang mampu menyatukan seluruh umat Islam dalam satu ikatan, yaitu ikatan ukhuwah Islamiyah.  Itulah Negara Islam yang diproklamirkan oleh Nabi SAW di kota Madinah Munawarah. Agar syariat Islam bisa ditegakkan secara kaffah, di samping perannya seorang rasul yang menyampaikan risalah wahyu, Nabi SAW juga mendedikasikan dirinya sebagai kepala negara yang mengatur seluruh tatanan hidup masyarakat.

Setelah Rasulullah SAW wafat, pemerintahan ini kemudian diteruskan oleh para penerus estafet kepemimpinan kepala negara tersebut. Dimulai dari masa Khulafaur Rasyidin, Umayiwah, Abbasiyah hingga berakhir pada masa Khilafah Turki Ustmani pada tanggal 3 maret 1924 silam.

Sejak runtuhnya Khilafah Islamiyah pada tahun 1342 H (1924 M), Umat Islam ibarat anak ayam yang kehilangan induknya. Tercerai berai, semuanya bergerak sesuai dengan minat, dan hasratnya masing-masing tanpa ada kepemimpinan yang mengarahkan. Syariat Islam banyak terabaikan, petunjuk hukum yang Allah turunkan tak mampu lagi diamalkan secara kaffah. Akibatnya, kehidupan umat Islam pun terus dikuasai oleh kezaliman dan ketidakadilan.

Memisahkan Agama dari Panggung Politik  adalah salah satu penyebab sulitnya perjuangan untuk kepemimpinan Islam (khilafah). Derasnya pemikiran sekuler yang menyebar di tengah-tengah umat Islam. Fenomena yang terjadi hari ini, Upaya sekulerisasi (pemisahan agama dari kehidupan) yang dilakukan musuh hampir bisa dirasakan di semua sistem hidup masyarakat. Mulai dari politik, pendidikan, ekonomi, sosial dan sebagainya.

Problematika tersebut diperparah dengan mereka yang menakuti muslim tapi menghiasi konsep sekuler seolah-olah terlihat logis dan benar. Slogan yang sering mereka yakinkan kepada masyarakat adalah “Biarkanlah apa yang menjadi Hak Allah kepada Allah dan apa yang menjadi hak raja kepada raja.”  Padahal dalam konsep Islam, semua aturan hidup itu adalah milik Allah semata.

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“…Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40)

Namun demikian musuh juga sadar bahwa memisahkan agama dari panggung politik bukanlah yang mudah diterapkan di tengah-tengah umat Islam. Mereka tahu bahwa al-Qur’an sebagai dasar hukum umat Islam adalah musuh utama yang harus dihadapi. Karena itu, butuh upaya keras untuk menjauhkan kaum muslimin dari al-Qur’an. Tanpa disadari, pelan-pelan ternyata usaha tersebut berhasil mereka lakukan. Dampaknya pun cukup luar biasa, hari ini banyak kaum muslimin yang tidak memahami lagi urgensi al-Qur’an sebagai sumber undang-undang. Mereka lebih memilih untuk berhukum kepada undang-undang buatan manusia dari pada hukum Allah. Padahal menolak hukum Allah merupakan salah satu bentuk kekufuran.

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“…Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah: 44)

sumber:kiblat.net

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *