Bagaimana Cara Beragama yang Benar

The_holy_Quran_by_faisalfsz-768x506
Islam adalah agama samawi, yang datang dari Allah Ta’ala melalui lisannya yang mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan agama yang berasal dari manusia, malaikat atau makhluk lainnya. Sehingga, ketika seseorang telah mengikrarkan keislamannya, maka setiap keyakinan, ucapan dan perbuatannya, haruslah sesuai dengan yang diajarkan dan disyariatkan oleh agama Islam.

Namun kenyataannya, ternyata banyak sekali kaum muslimin yang tidak benar dalam menjalankan agama Islam. Mereka meyakini apa yang tidak sesuai dengan Islam, mereka mengucapkan perkataan yang menyelisihi Islam dan mereka berbuat sesuatu yang dapat mengeluarkan dirinya dari keislaman.

Lantas, bagaimana cara beragama yang benar yang disyariatkan oleh Islam? Semoga pembahasan ringkas berikut dapat menerangkannya.

Islam adalah Agama Tauhid

Inti dari ajaran agama Islam adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam perbuatan-Nya, peribadatan kepada-Nya dan dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang mulia.

Sebagaimana dalam firman-Nya (artinya)

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56), yakni agar kita mengesakannya di dalam beribadah kepada-Nya.

Maknanya adalah ikhlas dalam beribadah, sebagaimana dalam firman-Nya (artinya)

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar: 2)

“Padahal mereka tidak disuruh keculi supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap. Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu mengeluarkan dengan sebab air hujan tersebut buah-buahan sebagai rezeki bagi kalian. Maka dari itu, janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah dalam keadaan kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22)

Dalil-dalil di atas dan yang semakna dengannya, sangat jelas memerintahkan kepada kita sebagai hamba Nya agar mengesakan Allah Ta’ala dalam beribadah. Dan setiap bentuk peribadatan yang ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, baik berupa pohon, batu, laut, kuburan atau selainnya, maka ia telah masuk ke dalam kesyirikan dan pelakunya terancam dengan neraka.

Allah berfirman (artinya)

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan seseuatu dengan Allah, maka pasti Allah akan mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah di neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah: 72)

Walaupun tujuan mereka menyembah kuburan atau selainnya itu untuk beribadah kepada Allah, atau sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka semua itu telah dibantah oleh Allah sendiri dalam firman-Nya, dan disebutkan bahwa perbuatan tersebut sebagai sebuah kekufuran. Sebagaimana firman Allah (artinya)

“Dan orang-orang yang mengambil wali (pelindung) selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat kufur.” (QS. Az Zumar: 3)

Karenanya, seseorang dikatakan telah berislam dengan benar jika ia telah menghilangkan sekutu bagi Allah dan ikhlas di dalam beribadah kepada-Nya.

Dalam Meyakini, Berucap dan Berbuat Haruslah Berdasarkan Ilmu

Sumber ilmu dan pedoman manusia di dunia adalah Al-Quran dan hadits Rasulullah. Seseorang yang telah beragama Islam dengan cara yang benar, adalah seseorang yang mencocoki setiap keyakinannya, ucapannya dan perbuatannya dengan Al-Quran dan hadits Nabi. Karena, setiap perbuatan ibadah yang tidak ada tuntunannya dalam Al-Quran dan hadits atau bahkan menyelisihi keduanya, maka ia telah masuk kepada hal-hal yang dilarang dalam syariat, dan perbuatannya dihukumi sebagai perbuatan yang sia-sia. Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintah kami maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)

Ketika seseorang masuk ke dalam agama Islam, maka konsekuensinya ia wajib menerima, mengambil dan mengikuti sumber ajarannya dari Al-Quran dan hadits Nabi yang shahih, bukan mengambil dari nenek moyang, seseorang yang dimuliakan atau selainnya. Allah berfiman (artinya)

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amatlah sedikit kalian mengambil pelajaran (darinya).” (QS. Al-A’raaf: 3)

Allah juga berfirman (artinya)

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Al-Hujuraat: 1)

Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda,

“Saya meninggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat sesudahnya (yaitu) Al-Quran dan Sunnahku dan keduanya tidak akan bercerai sampai keduanya menemuiku di telaga.” (HR. HR. Al-Hakim dan al-Baihaqi, Hasan)

Karenanya, mengagungkan nenek moyang, adat istiadat atau kebiasaan yang sudah turun menurun dari tahun ke tahun, ketika ajaran tersebut menyelisi apa yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka wajib untuk ditinggalkan dan tidak boleh dikerjakan. Allah Ta’ala berfirman (artinya)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-nisa: 59)

Memahami dan mengamalkan Al-Quran dan Hadits Nabi sebagaimana yang Dipahami dan diamalkan para Sahabat

Jika kita perhatikan kaum muslimin pada saat ini, setiap mereka memahami suatu dalil di dalam Al-Quran atau hadits nabi berdasarkan pemahamannya masing-masing. Sehingga tidak dapat diketahui, manakah dari pemahaman tersebut yang benar dan mana yang salah. Akibatnya adalah perselisihan yang berujung perpecahan tidak dapat dihindari.

Padahal Rasulullah telah menuntunkan kepada kita, bahwa di dalam memahami Al-Quran dan hadits harusnya sebagaimana yang dipahami para sahabat, bukan pemahamannya masing-masing. Allah berfirman (artinya)

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Ayat di atas menyebutkan bahwa orang-orang yang diridhoi oleh Allah di dalam beragama adalah para sahabat (Muhajirin dan Anshar) dan orang-orang yang mengikuti para sahabat dengan baik. Sehingga orang-orang yang menyelisihi cara beragamanya para sahabat, maka ia telah terjerumus ke dalam kesesatan.

Kemudian Allah Ta’ala mengancam orang yang menyelisihi jalan mereka (para sahabat) dengan firman-Nya (artinya)

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka Kami biarkan ia larut dalam kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)

Yang dimaksudkan dengan orang-orang mukmin ketika ayat ini turun adalah para sahabat. Barangsiapa yang menyelisihi jalan mereka akan terancam kesesatan dan jahannam.

Dengan demikian, ketika seseorang ingin mengetahui apa maksud dan makna yang terkandung di dalam Al-Quran dan hadits, maka lihatlah terlebih dahulu bagaimana perkataan dan pemahaman para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Sehingga perpecahan tidak akan terjadi dan kesesatan tidak akan tersebar luas di tengah  masyarakat. Bukan memahami dalil tersebut dengan akalnya atau hawa nafsunya masing-masing. Sebagaimana yang banyak dipraktikkan baik oleh para intelektual agama atau awamnya.

Mengikuti Rasul, Menjauhi Perpecahan dan Fanatisme Buta

Suatu ketika, Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma ditanya, “Kamu berada di atas millah Ali atau millah Utsman?”. Maka beliau menjawab, “Bahkan, saya berada di atas millah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (lihat al-Ishbah, hal. 86)

Itulah seharusnya sikap seorang muslim. Ketika terjadi perselisihan di dalam hukum, pendapat atau madzhab, maka ia tidak terlalu fanatik terhadap salah satu madzhab atau pendapat, namun mengembalikannya kepada Al-Quran dan hadits nabi. Karena dengan demikianlah, perpecahan dapat dicegah dan kejayaan Islam akan datang.

Allah  Ta’ala  berfirman (artinya), “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan, dan untuk mereka itulah siksaan yang sangat pedih.” (QS. Ali Imran: 105)

Perpecahan adalah kunci kekalahan dan mengikuti rasul adalah kunci persatuan untuk menuju kejayaan Islam.

Kesimpulan

Keempat hal di atas adalah dasar di dalam beragama Islam yang benar yang wajib bagi setiap muslim untuk melaksanakannya.

Sungguh indah ketika suatu masyarakat dapat mengamalkan keempat hal ini. Dengannya, kesyirikan dapat dihilangkan, setiap individu menjadi orang yang amanah dan selalu berhati-hati di dalam beramal serta bergaul dengan sesama. Tidak ada rasa dengki dan hasad terhadap orang lain, munculnya rasa aman dalam bermasyarakat, sikap toleran dan saling tolong menolong satu dengan yang lainnya, sehingga kebaikan-kebaikan pun akan muncul ketika syariat Islam ditegakkan.

Karenanya, marilah kita bersama-sama berusaha untuk beragama yang benar, dengan menerapkan dasar beragama ini, sehingga Islam dapat bangkit dari keterpurukan dan kita termasuk orang-orang yang diridhoi Allah Ta’ala dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Aamiin

Sumber : https://muslim.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *